Transaksi dengan Dirham perak yang diawali oleh toko buku ‘Sultan’, Parakan, menandai kembalinya muamalat di Kota Bambu Runcing.
Parakan, sebuah kota kecamatan di kaki gunung Sumbing dan gunung Sindoro, dikenal sebagai “Kota Bambu Runcing”. Ini menandai bahwa dari kota kecil inilah dulu perjuangan kaum santri dan sufi, dengan senjata apa adanya, yakni sebatang bambu runcing, melawan kaum penjajah kafir berpusat. Di bawah kepemimpinan ulama setempat, antara lain K.H. Subchi, para santri mengusir penjajah. Di Parakan pula, dalam beberapa tahun terakhir ini, Dirham dan Dinar telah beredar, melalui Wakala Amala.
Dalam muhibah pekan lalu, Pak Zaim Saidi dari WIN, berbicara dengan berbagai pihak, antara lain para pedagang setempat. Sebagai kota yang warganya kebanyakan adalah santri, pengenalan kembali Dirham dan Dinar di Parakan, tak mengalami banyak hambatan. Termasuk para pedagang ini dengan positif ingin segera menerapkannya dalam perdagangan sehari-hari mereka.
Salah satunya adalah Pak Muhisom Setiaki, pemilik dan pengelola Toko Buku “Sultan”, yang ada di Jl Let Suwaji 168, Parakan. Lalu ada Bpk Zaib, pengelola toko sembako, serta Pak Fahruddin, pemilik Rumah Pintar, pusat alat permainan edukatif, keduanya ada di dekat Pasar Legi, Parakan. Mereka spontan bersedia menerima pembayaran dengan Dinar emas dan Dirham perak. Rumah Pintar bahkan sudah resmi terdaftar sebagai anggota JAWARA. Tetapi, transaksi yang secara riil terjadi barulah di toko buku Sultan, berupa penjualan dua buah buku – buku kumpulan 200 hadits untuk anak-anak dan buku tentang pantun – dengan nilai 5 daniq Dirham. Penjualan berlangsung pada hari Senin, 21 Juni 2010. Letak toko buku Pak Muhisom ini tak berapa jauh dari Wakala Amala. Keduanya hanya berjarak sekitar 500 m saja.
Semoga langkah Pak Muhisom dan Pak Fahruddin mempelopori kembalinya muamalat di kota Bambu Runcing ini diikuti oleh para pedagang lainnya.