Anak-anak pun dapat menggunakan Dirham perak sebagai uang jajan mereka.
Anisa Zahra (10 tahun) sudah sangat mengenal mata uang Dirham perak. Ibunya mengelola “Grosir Arofah” yang sering bertransaksi dengan Dinar emas maupun Dirham perak. Karena itu sebagian uang jajannya, apalagi yang tersisa dan akhirnya masuk kotak celengannya, berwujud daniq (1/6) Dirham. Kalau pun ia perlu membelanjakannya untuk keperluan jajan tak ada masalah baginya. Di wilayah Tanah Baru, Depok, tempat ia tinggal, seudah semakin banyak warung dan toko yang menerima pembayaran dengan Dirham perak. Termasuk kedai es kelapa muda di depan kios “Grosir Arofah”, yang dikelola ibunya.
“Nanti uang lebaran Nisa juga maunya Dirham aja,” ujarnya, berangan-angan, meskipun lebaran masih tiga bulan lagi.
Tak kalah serunya adalah adik lelakinya, Zidny, yang baru berusia 6 tahun, dan duduk di TK B. Ia sudah sangat mengenal koin Dirham. Ia selalu meminta daniq Dirham. Bakan kalau ia punya rupiah pun akan selalu minta “dibelikan” daniq, untuk jajan. Salah satu jajanan kesukaannya adalah minuman susu asam, yang dapat ia beli dengan daniq Dirham, untuk tiap 3 botol kecil. Toko Sahlan, salah anggota Jawara di Tanah Baru, yang letaknya juga bersebelahan dengan toko “Grosir Arofah” adalah tempat Zidny membelanjakan daniqnya.
Semoga semakin banyak orang tua dan anak-anak menggunakan daniq Dirham sebagai uang jajan dan tabungannya, seperti Anisa dan Zidny.